menunggu pesawat selanjutnya
MASIH setengah jam lagi. Kataku pada Hanna yang sudah lebih dulu menyandarkan punggungnya ke kursi. Hari ini hari terakhir di bulan Mei dan saat ini kami berada di ruang tunggu keberangkatan bandara Changi, Singapura. Setelah sekitar satu setengah jam terbang dari Jakarta, kami masih harus transit menunggu pesawat kami selanjutnya tujuan Belanda. Ari, kamu yakin tidak perlu obat tidur? Hanna bertanya padaku sambil melipat kakinya sehingga posisi duduknya agak merosot kebawah dan menjadi lebih santai.
Sekarang belum perlu, mungkin nanti. Aku masih belum mengantuk. Lagipula obat tidur tidak mempan untukku pada saat berpergian seperti ini. Kuambil boarding pass milikku dan kumasukkan dalam lipatan buku paspor seperti yang sudah Hanna lakukan.
Hanna menoleh menatapku, andai saja Indonesia bisa lebih tertib seperti disini. Aku mengangguk. Membayangkan apakah mungkin Indonesia bisa teratur seperti beberapa negara yang pernah kukunjungi. Indonesia mungkin masih jauh dari tertib, tapi paling tidak Jakarta harus bisa memberi contoh.
Obrolan tengah malam di negeri orang tentang negeri sendiri pun terus bergulir. Jujur saja aku merasa lebih aman berada di bandara negara lain daripada di Soekarno-Hatta. Hanna mengerutkan dahi, tidak mengerti kenapa aku punya pikiran seperti itu. Menurutku sederhana saja, coba perhatikan di Changi ini, begitu tertib dan teratur. Apa yang benar memang dikatakan benar, dan yang salah memang salah. Kalau di Indonesia yang salah belum tentu salah, yang benar belum tentu benar, semuanya abu-abu. Hebatnya lagi yang salah tadi bisa jadi benar atau yang benar bisa jadi salah. Ruwet.
Kamu ingat waktu aku kembali dari Belanda dua tahun lalu? Hanna menggeleng. Dengan alasan ukuran koper terlalu besar, aku harus membongkar isi koperku untuk diperlihatkan kepada petugas douane. Aku dianggap seperti bandar narkoba yang menyelundupkan narkotik masuk ke Indonesia. Padahal waktu itu yang kubawa hanya baju dan buku-buku yang kugunakan selama kuliah. Kesal karena tidak menemukan barang-barang yang bisa dipersalahkan dalam koperku, lantas para petugas mantan preman itu menetapkan ”fine” sebesar dua ratus ribu. Sebuah syarat jika koper dan barang-barangku ingin merasakan udara knalpot Jakarta yang bikin megap-megap. Tentu saja aku dan beberapa orang yang bernasib serupa denganku protes. Tapi bagai mengalahkan buto ijo yang sadis dan licik, tetap saja kekalahan ada di pihakku. Aku harus membayar denda dengan alasan koperku overweight. Seperti itukah keramah-tamahan Indonesia? Pantaslah jika Indonesia selalu dikalahkan bangsa lain.
Aduh kasihan! Hanna tertawa geli. Dia mengikat rambutnya kebelakang mirip ekor kuda. Sekarang kamu boleh senang karena paling tidak kamu akan bertemu preman-preman itu dua sampai tiga tahun lagi, kata Hanna meledek.
Semoga saja. Aku hanya bisa mengharapkan jika kita nanti kembali, Jakarta sudah bisa lebih tertib. Atau jangan-jangan malah tambah amburadul. Segera kujejalkan paspor kedalam tas pinggang bercampur dengan kwitansi pembayaran fiskal. Sepotong kertas bernilai satu juta rupiah yang merupakan pajak persembahan bagi bos para preman.
Aku seharusnya lebih banyak bersyukur karena bisa melihat dan menikmati sisi lain belahan dunia. Hanna lalu tersenyum. Bertemu orang-orang dengan berbagai karakter, melihat kebudayaan baru, dan mempelajarinya. Di setiap negara yang pernah kukunjungi selalu tertinggal kesan menyenangkan. Seperti di Singapura ini. Walaupun hanya sekedar singgah dan beristirahat sejenak di ruang tunggu, kesan tertib dan teraturnya sebuah negara sudah bisa kurasakan.
Ya, aku setuju denganmu, kata Hanna. Tapi sejauh-jauhnya bangau terbang, toch akan kembali ke sarang juga. Jika nanti kembali, rajutlah sarang yang indah. Aku mengangguk. Kuresapi benar perkataan Hanna selama beberapa saat. Kami berhenti bicara sejenak hingga kulihat orang-orang di ruang tunggu keberangkatan ini bersiap-siap mengantri masuk ke pesawat.
Hanna menarik napas panjang dan mukanya cerah seperti baru menghisap udara taman bunga. Dia duduk tegak dan kelihatan lebih berenergi. Kupegang erat tangannya. Rasanya bahagia sekali.
Ayo Hanna, kita terbang! Kuraih handbaggage dan kugandeng tangan Hanna menuju belalai pesawat. Selamat tinggal Changi, sampai jumpa lagi.
Pesawat pun lepas landas.
May 31st, 2007 at 12:09 am
Sumpeh.. aku juga naro tugas jurnalisme foto ini di blog.. wakakakakakakak…