Ingatan di Tengah Jalan Setapak
Terperangah menatap langit. Awan putih berlomba maju melewati padang jerami. Sekilas terik panas matahari terasa menyengat kulit. Tapi begitu bayangan perlombaan awan menutupi birunya langit, sejenak rasa segar menerpa kulit. Padang jerami pun berubah lebih gelap. Tiupan angin memejamkan mata, munculah bayangan lain. Bukan awan. Tapi manusia. Manusia-manusia hebat yang menjadi sahabat.
Clark Kent. Sahabat saya yang konon kabarnya bisa berubah menjadi Superman. Pahlawan seperti Sudirman. Waktu masih ABG sangat badung sekali. Maklum masih menjadi Superboy, kawannya pun cuma satu si Sudirboy. Sekarang dia sudah sangat jelas berbeda. Sifatnya paling dewasa dibanding saya dan sahabat-sahabat saya yang lain. Paling tidak itu menurut saya. Kadang Superman ini suka merasa rendah diri dihadapan orang lain, padahal orang lain belum tentu bisa seperti dia. ”Pengalamannya” pun banyak, sebut apa saja dia pasti sudah pernah. Tapi terkesan hidupnya agak berat sebelah. Ingat sekali lagi hanya kesan.
Fira Basuki. Sahabat saya sejak menginjakan kaki di bumi kampus tercinta dari lima tahun lalu. Pandai membaca gerak-gerik orang. Haus cinta dan pelukan. Ingin selalu disayang, sayang dia sering tidak sadar betapa banyaknya orang dibelakangnya yang rela menderita untuk membelanya. Saya salah satunya. Sibuk mencari cinta sejati, tapi standar yang dipatok terlalu tinggi. Merahnya gincu akan pudar bila dia tertawa. Lepas dan lebar. Hingga isi seluruh mulutnya bisa terlihat jelas. Saya pun akan tertawa bila dia tertawa. Tidak hanya leher anjing peliharaannya yang dia beri hiasan kalung, dia pun gemar sekali mendengar gemerincing untaian demi untaian yang melingkar di lehernya sendiri. Entah dia meniru hobby hewan piaraannya atau justru piaraannnya yang diwajibkan mempunyai hobby sama dengan sang majikan. Sahabat saya yang paling tegar. Hingga terkadang dia berpikir dengan pandangan terlihat kosong. Alias bengong. Walaupun dia menganggap saya introvert, tapi jika ada kesempatan, saya ingin cerita banyak dengannya.
Ibu kita Kartini. Sahabat saya ini benar-benar mempunyai jiwa pengayom. Saya dan para sahabat saya tercinta pasti akan terlunta-lunta kalau tidak ”diasuh” oleh ibu kita Kartini dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Habis gelap terbitlah terang. Ibu kita ini pandai segala hal. Dan yang paling saya suka sifat sosialnya itu. Senang berbagi dan tidak pelit sama sekali. Selalu membantu sahabatnya terlebih dahulu baru dia membantu dirinya sendiri. Jiwa sosialnya itu bisa meruntuhkan stereotype padang bengkok. Mm, tapi kalau untuk rahasia, saya lebih mempercayakannya pada si Fira Basuki.
Kasino Warkop. Sahabat saya yang terobsesi dengan gaya pria metroseksual. Kalau lebih PD sedikit lagi mungkin dia sudah menjadi artis. Hip hop bling bling. Cerdas tapi bawel karena terbiasa mengatur adik-adiknya yang lumayan banyak. Walaupun begitu hidupnya sangat bahagia, sudah ada tambatan hati yang siap dibawa menuju pelaminan. Tidak tanggung-tanggung, dua profesi pekerjaan diganyang sekaligus. Sibuk tapi masih sempat bermain bola. Entah apalagi yang dicarinya.
Bu Kasur. Sahabat saya yang sangat menyukai anak kecil. Hingga dia rela menjadi guru balita. Menurutnya tidak ada yang lebih menggemaskan selain mendengar celoteh bayi. Ada Bu kasur pasti ada Pak Kasur. Keduanya berpengalaman menjadi pengajar balita. Benar-benar pasangan yang kompak. Sebagai pendidik anak-anak, sahabat saya ini sangat ramah sekali. Terkadang saya jadi ingin ”diajari” olehnya. Pribadinya sangat unik. Terlihat lebih matang daripada usianya. Bibirnya yang gembul sering berceloteh cabul. Tapi lucu. Sahabat yang imut.
Victor Wooten. Sahabat saya yang paling jago membetot senar bass. Badannya pun sekelas instrumen kontra bass. Gede titik. Jadi pantaslah bersanding dengan alat musik ini. Bass kok mainin bass. Tapi dia sahabat saya yang paling sabar. Semua masalah akan ada jalan keluarnya kalau bersama sahabat saya ini. Kalau mentok, santai saja. Pokoknya gak berasa hidup kalau tegang, jadi rileks aja man.
Lisa Simpsons. Sahabat saya yang merupakan anak kedua dalam keluarga. Hobbynya tentu saja musik. Berbagai jenis lagu dia kuasai. Kalau disandingkan dengan handphone trendy masa kini bisa dibilang dia mempunyai fitur Play Now dalam jiwanya. Tinggal sebut judul lagu, maka melantunlah bait-bait lagu yang dimaksud. Walau terkadang hanya humming saja. Berbeda dengan Victor, sahabat saya yang satu ini paling ringan badannya diantara sahabat yang lain. Tapi untuk bermain basket jangan dipandang sebelah mata. Jagoan dia.
Wanda Hamidah. Sahabat saya yang mempunyai segudang profesi. Mahasiswi, karyawati, fotografer, dan aktivis. Sibuk sekali, hingga sering dicap lemah syahwat. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja. Dalam dirinya ada mahasiswi cerdas, karyawati handal, fotografer profesional, dan aktivis pembela hingga titik darah penghabisan. Paling pendiam diantara sahabat-sahabat saya yang lain. Jangan sandingkan dia dengan si Kasino yang rame. Dia paling hanya manggut-manggut tanda setuju. Atau geleng-geleng tanda menolak. Jika berpikir bisa sambil tersenyum. Kalau mengerti akan keluar Oo..panjang dari bibirnya yang berwarna merah. Tapi menurut desas-desus, fansnya banyak. Walaupun begitu dia tidak ambil pusing. Selama cita-cita belum diraih, yang lain harus menunggu.
Bang Yos. Sahabat saya yang satu ini, kurang saya pahami apa yang paling menjadi kesukaanya. Perlu digaris bawahi kata paling tadi. Dari mulai musik, main kartu, foto-foto, kongkow, ajeb-ajeb, main bilyard, dan body cewek, semuanya dia jadikan kegemaran. Seluruh peta Jakarta dia hapal. Benar-benar warga Jakarta sejati. So, mau apalagi? You say it, you get it.
Kumolonimbus pun menutup langit.
May 18th, 2007 at 4:38 am
Ahoy.. nice banget gil.. you should write more like this. Moga2 si “Lisa Simpsons” bisa berprestasi seperti si Lisa Simpsons dalam film yang sesungguhnya. Amin ya robbal Alamin.