Archive for May, 2007

menunggu pesawat selanjutnya

Wednesday, May 30th, 2007

MASIH setengah jam lagi. Kataku pada Hanna yang sudah lebih dulu menyandarkan punggungnya ke kursi. Hari ini hari terakhir di bulan Mei dan saat ini kami berada di ruang tunggu keberangkatan bandara Changi, Singapura. Setelah sekitar satu setengah jam terbang dari Jakarta, kami masih harus transit menunggu pesawat kami selanjutnya tujuan Belanda. Ari, kamu yakin tidak perlu obat tidur? Hanna bertanya padaku sambil melipat kakinya sehingga posisi duduknya agak merosot kebawah dan menjadi lebih santai.

            Sekarang belum perlu, mungkin nanti. Aku masih belum mengantuk. Lagipula obat tidur tidak mempan untukku pada saat berpergian seperti ini. Kuambil boarding pass milikku dan kumasukkan dalam lipatan buku paspor seperti yang sudah Hanna lakukan.

            Hanna menoleh menatapku, andai saja Indonesia bisa lebih tertib seperti disini. Aku mengangguk. Membayangkan apakah mungkin Indonesia bisa teratur seperti beberapa negara yang pernah kukunjungi. Indonesia mungkin masih jauh dari tertib, tapi paling tidak Jakarta harus bisa memberi contoh.

            Obrolan tengah malam di negeri orang tentang negeri sendiri pun terus bergulir. Jujur saja aku merasa lebih aman berada di bandara negara lain daripada di Soekarno-Hatta. Hanna mengerutkan dahi, tidak mengerti kenapa aku punya pikiran seperti itu. Menurutku sederhana saja, coba perhatikan di Changi ini, begitu tertib dan teratur. Apa yang benar memang dikatakan benar, dan yang salah memang salah. Kalau di Indonesia yang salah belum tentu salah, yang benar belum tentu benar, semuanya abu-abu. Hebatnya lagi yang salah tadi bisa jadi benar atau yang benar bisa jadi salah. Ruwet.

            Kamu ingat waktu aku kembali dari Belanda dua tahun lalu? Hanna menggeleng. Dengan alasan ukuran koper terlalu besar, aku harus membongkar isi koperku untuk diperlihatkan kepada petugas douane. Aku dianggap seperti bandar narkoba yang menyelundupkan narkotik masuk ke Indonesia. Padahal waktu itu yang kubawa hanya baju dan buku-buku yang kugunakan selama kuliah. Kesal karena tidak menemukan barang-barang yang bisa dipersalahkan dalam koperku, lantas para petugas mantan preman itu menetapkan ”fine” sebesar dua ratus ribu. Sebuah syarat jika koper dan barang-barangku ingin merasakan udara knalpot Jakarta yang bikin megap-megap. Tentu saja aku dan beberapa orang yang bernasib serupa denganku protes. Tapi bagai mengalahkan buto ijo yang sadis dan licik, tetap saja kekalahan ada di pihakku. Aku harus membayar denda dengan alasan koperku overweight. Seperti itukah keramah-tamahan Indonesia? Pantaslah jika Indonesia selalu dikalahkan bangsa lain.

            Aduh kasihan! Hanna tertawa geli. Dia mengikat rambutnya kebelakang mirip ekor kuda. Sekarang kamu boleh senang karena paling tidak kamu akan bertemu preman-preman itu dua sampai tiga tahun lagi, kata Hanna meledek.

            Semoga saja. Aku hanya bisa mengharapkan jika kita nanti kembali, Jakarta sudah bisa lebih tertib. Atau jangan-jangan malah tambah amburadul. Segera kujejalkan paspor kedalam tas pinggang bercampur dengan kwitansi pembayaran fiskal. Sepotong kertas bernilai satu juta rupiah yang merupakan pajak persembahan bagi bos para preman.

            Aku seharusnya lebih banyak bersyukur karena bisa melihat dan menikmati sisi lain belahan dunia. Hanna lalu tersenyum. Bertemu orang-orang dengan berbagai karakter, melihat kebudayaan baru, dan mempelajarinya. Di setiap negara yang pernah kukunjungi selalu tertinggal kesan menyenangkan. Seperti di Singapura ini. Walaupun hanya sekedar singgah dan beristirahat sejenak di ruang tunggu, kesan tertib dan teraturnya sebuah negara sudah bisa kurasakan.

            Ya, aku setuju denganmu, kata Hanna. Tapi sejauh-jauhnya bangau terbang, toch akan kembali ke sarang juga. Jika nanti kembali, rajutlah sarang yang indah. Aku mengangguk. Kuresapi benar perkataan Hanna selama beberapa saat. Kami berhenti bicara sejenak hingga kulihat orang-orang di ruang tunggu keberangkatan ini bersiap-siap mengantri masuk ke pesawat.

            Hanna menarik napas panjang dan mukanya cerah seperti baru menghisap udara taman bunga. Dia duduk tegak dan kelihatan lebih berenergi. Kupegang erat tangannya. Rasanya bahagia sekali.

Ayo Hanna, kita terbang! Kuraih handbaggage dan kugandeng tangan Hanna menuju belalai pesawat. Selamat tinggal Changi, sampai jumpa lagi.

            Pesawat pun lepas landas.

Ingatan di Tengah Jalan Setapak

Thursday, May 17th, 2007

Terperangah menatap langit. Awan putih berlomba maju melewati padang jerami. Sekilas terik panas matahari terasa menyengat kulit. Tapi begitu bayangan perlombaan awan menutupi birunya langit, sejenak rasa segar menerpa kulit. Padang jerami pun berubah lebih gelap. Tiupan angin memejamkan mata, munculah bayangan lain. Bukan awan. Tapi manusia. Manusia-manusia hebat yang menjadi sahabat.

Clark Kent. Sahabat saya yang konon kabarnya bisa berubah menjadi Superman. Pahlawan seperti Sudirman. Waktu masih ABG sangat badung sekali. Maklum masih menjadi Superboy, kawannya pun cuma satu si Sudirboy. Sekarang dia sudah sangat jelas berbeda. Sifatnya paling dewasa dibanding saya dan sahabat-sahabat saya yang lain. Paling tidak itu menurut saya. Kadang Superman ini suka merasa rendah diri dihadapan orang lain, padahal orang lain belum tentu bisa seperti dia. ”Pengalamannya” pun banyak, sebut apa saja dia pasti sudah pernah. Tapi terkesan hidupnya agak berat sebelah. Ingat sekali lagi hanya kesan.

Fira Basuki. Sahabat saya sejak menginjakan kaki di bumi kampus tercinta dari lima tahun lalu. Pandai membaca gerak-gerik orang. Haus cinta dan pelukan. Ingin selalu disayang, sayang dia sering tidak sadar betapa banyaknya orang dibelakangnya yang rela menderita untuk membelanya. Saya salah satunya. Sibuk mencari cinta sejati, tapi standar yang dipatok terlalu tinggi. Merahnya gincu akan pudar bila dia tertawa. Lepas dan lebar. Hingga isi seluruh mulutnya bisa terlihat jelas. Saya pun akan tertawa bila dia tertawa. Tidak hanya leher anjing peliharaannya yang dia beri hiasan kalung, dia pun gemar sekali mendengar gemerincing untaian demi untaian yang melingkar di lehernya sendiri. Entah dia meniru hobby hewan piaraannya atau justru piaraannnya yang diwajibkan mempunyai hobby sama dengan sang majikan. Sahabat saya yang paling tegar. Hingga terkadang dia berpikir dengan pandangan terlihat kosong. Alias bengong. Walaupun dia menganggap saya introvert, tapi jika ada kesempatan, saya ingin cerita banyak dengannya.

Ibu kita Kartini. Sahabat saya ini benar-benar mempunyai jiwa pengayom. Saya dan para sahabat saya tercinta pasti akan terlunta-lunta kalau tidak ”diasuh” oleh ibu kita Kartini dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Habis gelap terbitlah terang. Ibu kita ini pandai segala hal. Dan yang paling saya suka sifat sosialnya itu. Senang berbagi dan tidak pelit sama sekali. Selalu membantu sahabatnya terlebih dahulu baru dia membantu dirinya sendiri. Jiwa sosialnya itu bisa meruntuhkan stereotype padang bengkok. Mm, tapi kalau untuk rahasia, saya lebih mempercayakannya pada si Fira Basuki.

Kasino Warkop. Sahabat saya yang terobsesi dengan gaya pria metroseksual. Kalau lebih PD sedikit lagi mungkin dia sudah menjadi artis. Hip hop bling bling. Cerdas tapi bawel karena terbiasa mengatur adik-adiknya yang lumayan banyak. Walaupun begitu hidupnya sangat bahagia, sudah ada tambatan hati yang siap dibawa menuju pelaminan. Tidak tanggung-tanggung, dua profesi pekerjaan diganyang sekaligus. Sibuk tapi masih sempat bermain bola. Entah apalagi yang dicarinya.

Bu Kasur. Sahabat saya yang sangat menyukai anak kecil. Hingga dia rela menjadi guru balita. Menurutnya tidak ada yang lebih menggemaskan selain mendengar celoteh bayi. Ada Bu kasur pasti ada Pak Kasur. Keduanya berpengalaman menjadi pengajar balita. Benar-benar pasangan yang kompak. Sebagai pendidik anak-anak, sahabat saya ini sangat ramah sekali. Terkadang saya jadi ingin ”diajari” olehnya. Pribadinya sangat unik. Terlihat lebih matang daripada usianya. Bibirnya yang gembul sering berceloteh cabul. Tapi lucu. Sahabat yang imut.

Victor Wooten. Sahabat saya yang paling jago membetot senar bass. Badannya pun sekelas instrumen kontra bass. Gede titik. Jadi pantaslah bersanding dengan alat musik ini. Bass kok mainin bass. Tapi dia sahabat saya yang paling sabar. Semua masalah akan ada jalan keluarnya kalau bersama sahabat saya ini. Kalau mentok, santai saja. Pokoknya gak berasa hidup kalau tegang, jadi rileks aja man.

Lisa Simpsons. Sahabat saya yang merupakan anak kedua dalam keluarga. Hobbynya tentu saja musik. Berbagai jenis lagu dia kuasai. Kalau disandingkan dengan handphone trendy masa kini bisa dibilang dia mempunyai fitur Play Now dalam jiwanya. Tinggal sebut judul lagu, maka melantunlah bait-bait lagu yang dimaksud. Walau terkadang hanya humming saja. Berbeda dengan Victor, sahabat saya yang satu ini paling ringan badannya diantara sahabat yang lain. Tapi untuk bermain basket jangan dipandang sebelah mata. Jagoan dia.

Wanda Hamidah. Sahabat saya yang mempunyai segudang profesi. Mahasiswi, karyawati, fotografer, dan aktivis. Sibuk sekali, hingga sering dicap lemah syahwat. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja. Dalam dirinya ada mahasiswi cerdas, karyawati handal, fotografer profesional, dan aktivis pembela hingga titik darah penghabisan. Paling pendiam diantara sahabat-sahabat saya yang lain. Jangan sandingkan dia dengan si Kasino yang rame. Dia paling hanya manggut-manggut tanda setuju. Atau geleng-geleng tanda menolak. Jika berpikir bisa sambil tersenyum. Kalau mengerti akan keluar Oo..panjang dari bibirnya yang berwarna merah. Tapi menurut desas-desus, fansnya banyak. Walaupun begitu dia tidak ambil pusing. Selama cita-cita belum diraih, yang lain harus menunggu.

Bang Yos. Sahabat saya yang satu ini, kurang saya pahami apa yang paling menjadi kesukaanya. Perlu digaris bawahi kata paling tadi. Dari mulai musik, main kartu, foto-foto, kongkow, ajeb-ajeb, main bilyard, dan body cewek, semuanya dia jadikan kegemaran. Seluruh peta Jakarta dia hapal. Benar-benar warga Jakarta sejati. So, mau apalagi? You say it, you get it.

Kumolonimbus pun menutup langit.

Pech Onderweg

Saturday, May 12th, 2007

Hari ini harusnya gw lagi seneng-seneng minum sampeyan yang kalo ditulis dari bahasa aslinya yaitu campaigne. Lumayan acara gratisan saban taun gara-gara ratu Beatrix di Belanda ulang tahun. Tapi kenyataannya gw harus duduk dalam kelas ngikutin kuliah metode penelitian kuantitaif yang gak bisa gw berikan kesan dan pesan itu. Yah gitu deh..

Akhirnya bisa juga kuliah selesai, pengen banget cepet pulang. Makan sambil nonton tv, terus tidur dan ngarep banget kalo besok bangun pagi gw udah gak ada beban tugas kuliah yang menumpuk seabreg-abreg kayak cucian seminggu.

Setelah berdada-dada ria sama anak kommas yang kayaknya juga udah pada mulai sinting gara-gara tugas, pengen rasanya ngebut biar cepet ampe rumah. Sial, ban belakang motor gw kempes. Gak tau bocor apa cuma kempes doang. Parahnya posisi gw masih di Fisip, yang kalo mau ke margonda jauh, kukusan jauh, kemana-mana jauh buat nyari tukang tambal ban. Anjing… mengongong deket tukang mie yamin. Gw dorong deh tuh motor mengikuti saran temen yang pernah kempes juga bannya di daerah Fisip. Katanya sih di deket Pocin ada tukang tambal ban. Mudah-mudahan masih buka. Karena emang Pocin yang paling deket ama Fisip. Maju tak gentar, lewatin Fasilkom terus lewat belakangnya Hukum yang gelap gempita. Kalo gulita aja sih masih bisa keliatan dikit. Konon kabarnya di daerah ini banyak banget yang namanya anjing. Huuuu, sekali lagi maju tak gentar, biar kata gw phobia anjing, gw masih inget ama yang diatas (apaan yang diatas.. genteng..) semoga gak ada asu yang mau deketin gw. Dan bener banget, gak ada asu yang terlihat batang ekornya sampe gw tiba di pocin. Batang ekor anjing emang gak keliatan tapi batang hidung tukang tambal ban juga gak ada. Kata pedagang warteg, udah pulang gara-gara bete nambel ban mulu.

Oke deh, paling gak udah deket Margonjes. Pasti banyak tukang tambal ban disana. Sampe di Margonjes dari arah stasiun Pocin, kayaknya gw harus jadi spooky driver. Ngelawan arus lalu lintas dari kiri menjadi kanan. Ah paling gak bakal ketangkep polisi, kan motornya gak gw naikin, lagian bannya kempes. Tapi disisi kanan sini kok gak ada tukang tambal ban. Adanya disisi kiri. Kalo begitu masak motornya harus diangkat buat nyebrangin pembatas jalanan. Ah, itu sih lima kali duapuluh. Mendingan terus aja deh cari tambal ban yang disebelah kanan aja. Akirnya setelah melewati Detos dan pom bensin, tetep aja gak ada tukang tambal ban. Ya udah dorong terus. Sampe lewatin Bumi Wiyata dan nyaris sampe Pesona Khayangan. Akirnya ketemu tukang tambal ban yang beroperasi. Capek deh.

Kalo kilas balik proses dorong motor dari fisip ampe sini kira-kira ngeluarin berapa kalori ya. Lumayan olahraga malem-malem. Setelah yakin ban selesai dibenerin dan udah sip, tanceplah pulang ke rumah.

Tepar terkapar, molor selonjor. Ngimpiin tugas-tugas menghadang besok pagi. Ada mpk yang harus dikerjakan menggunakan SPSS dan belajar tentang ketebelece buat tes juga persiapan presentasi. Lantas tiba-tiba pak Dibyo nongol bawa tongkat buat latian nyanyi di balerung. Lagunya ”Paper Market Performance MNC”. Terus tau-tau si Mira dateng bawa fotocopian MMAB yang harus diterjemahin buat hari jumat sebanyak sepuluh lembar. Harus selesai dalam dua hari. Akirnya gw jatuh pingsan dalam mimpi waktu si Mimmy ngasi tau soal UAS harus bikin disain koran. Ditonjok KO sama Om Jin pake personal profile yang harus presentasi sabtu ini..

Minggu ini aneh banget, rasanya lama kalo mikirin tugas seabreg-abreg dan bikin pusing itu, tapi rasanya lumayan cepet kalo mikirin kapan gw mulai ngerjain itu tugas-tugas. Tarsok-tarsok, entar aja deh besok-besok. Terus aja gitu ampe deadline. Tapi masih untung tuh, itu kan cuma ngimpi senen malem.

Masih ada selasa-rabu-kamis-jumat.. tetep di empat mata!!